BLOG GALAHERANG sebuah media informasi tentang review, pendidikan, perjalanan, kesehatan dan budaya

Cinta Yang Tersadap


        Sekitar jam lima sore terdengar suara kaca jatuh ke lantai, aku secepat mungkin memarkir motor di depan kontrakan. Lalu mendekati pintu rumah sambil menempelkan telinga untuk memastikan sumber suara.
        Ketiga buah rumah itu pintunya tertutup rapat. Kontrakan yang aku tempati di jalan Veteran hanya terpisah oleh dinding. Setelah berapa langkah terdengar dua kali lemparan mengenai dinding. Sempat aku panik dan kedua tangan gemetar, ternyata suara itu berasal dari dalam kontrakanku sendiri.
        Aku mengetuk pintu berulang kali, tapi tetap saja tak dibukakannya. Sempat aku kepikiran untuk menobraknya, tapi takut ibu kontrakan marah dan minta ganti rugi.
"Asmara, cepat buka pintunya," teriakku sambil mengepalkan tangan ke pintu.
"Biarkan, aku ingin mati saja, Tia," Asmara sambil menangis.
"Astagfirullah, kamu jangan gila ya, Ra," ucap Tia.
"Hatiku hancur sekarang".

Aku membongkar isi tas, tapi kunci rumahnya tak ada. Tak lama kemudian teringat ternyata kunci itu masih melekat di motor. Aku lari mengambilnya, lalu masuk ke dalam rumah.
"Ya Allah, kenapa kamu nekad seperti ini, Ra?" aku gemetar melihat pecahan kaca yang dipegangnya.
"Aku benci dengan Khairul, dia menghianati ketulusanku selama ini," ucapnya.
"Ngucap, baca istighfar. Kamu sedang di kendalikan syaitan, Ra," aku berusaha mendekati dan menenangkannya.
"Aku tak kuat, Tia," ia menangis sejadi-jadinya.
"Sahabatku, manusia itu semuanya lemah, Ra. Tapi, imanlah yang membuat seseorang itu kuat dan tegar," aku memeluknya sambil merapikan kerudung warna pink yang ia kenakan.

          Beberapa piring dan gelas ia lemparkan ke dinding. Pecahan kaca berserakan di lantai. Sore itu Asmara melihat Khairul berboncengan dengan perempuan yang tidak ia kenal di depan Alun-alun Kapuas. Beberapa hari sikapnya berubah terhadapnya, HP nya pun tak boleh dilihatnya.
"Sudah aku bilang sebelumnya. Kamu mesti fokus dengan kerjaannya, Ra," aku menasehatinya.
"Dia sudah berjanji akan setia menjalani hubungan kami berdua, tapi nyatanya dia berkhianat".
"Dari awal sudah aku sampaikan juga, kalau memang dia laki-laki yang serius dengan kamu, pasti dia tak mau mengajak kamu kearah maksiat yaitu pacaran," tegas aku padanya.
"Aku mesti mencari tahu siapa perempuan itu," Asmara menunjukkan wajah kesalnya.
"Ingat, Ra. Laki-laki baik itu melamar kita ketika ia sudah siap, memberi tahu maksudnya lalu datang ke orangtua kita di rumah" jelasku pada Asmara.
"Jadi, kau menganggap Khairul tak gentlemen selama ini, Tia?"
"Tafsirkan dan renungkan oleh kamu sendiri dulu, Ra".
Share on Google Plus

About Adi Kusuma

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment