BLOG GALAHERANG sebuah media informasi tentang review, pendidikan, perjalanan, kesehatan dan budaya

Paradigma Penelitian Kualitatif


PARADIGMA PENELITIAN KUALITATIF


A.      Pengertian Paradigma
      Paradigma adalah kerangka perbedaan terbesar dalam ilmu pengetahuan. Menurut Lincon dan Guba (dalam Nyoman, 2010: 38), mendefinisikan sebagai sistem anggapan dasar, pandangan dunia yang mengarahkan peneliti dalam menentukan peneliti dalam menentukan metodologi dan kerangka ontologisnya. Menurut Harmon (dalam Moleong, 2014: 49) mendefinisikan ‘paradigma’ sebagai cara mendasar untuk mempersepsi, berpikir, menilai dan melakukan yang berkaitan dengan sesuatu secara khusus tentang visi realitas. Bogdan dan Biklen  menyatakan bahwa paradigma adalah kumpulan longgar dari sejumlah asumsi, konsep, atau proposisi yang berhubungan secara logis, yang mengarahkan cara berpikir dan penelitian. Sedangkan Baker (dalam Moleong, 2014: 49) mendefinisikan paradigma sebagai seperangkat aturan yang (1) membangun atau mendefinisikan  batas-batas; dan (2) menjelaskan bagaimana sesuatu harus dilakukan dalam batas-batas itu agar berhasil. Cohenn dan Manion membatasi paradigma sebagai tujuan atau motif filsofis pelaksanaan suatu penelitian. Berdasarkan definisi-definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa paradigma merupakan  seperangkat konsep, keyakinan, asumsi, nilai, metode, atau aturan  yang membentuk kerangka kerja pelaksanaan sebuah penelitian.
      Paradigma merupakan pola atau model tentang bagaimana sesuatu distruktur (bagaimana dan hubungannya) atau bagaimana bagian-bagian berfungsi (perilaku yang didalamnya ada konteks khusus atau dimensi waktu). Menurut Kuhn (dalam  Moleong, 2014: 49), mendefinisikan ‘paradigma ilmiah’ sebagai ‘contoh yang diterima tentang praktek ilmiah sebenarnya, contoh-contoh termasuk hukum, teori, aplikasi, dan instrumentasi secara bersama-sama yang menyediakan model yang darinya muncul tradisi yang koheren dari penelitian ilmiah. Penelitian yang pelaksanaannya didasarkan pada paradigm bersama berkomitmen untuk menggunakan aturan dan standar praktek ilmiah yang sama. Menurut Capra (dalam Moleong, 2014: 49), mendefinisikan paradigma sebagai konstelasi konsep, nilai-nilai persepsi dan praktek yang dialami bersama oleh masyarakat, yang membentuk visi khusus tentang realitas sebagai dasar tentang cara mengorganisasikan dirinya.
      Pada dasarnya ada kesukaran apabila seseorang ingin mengkonstruksi realitas. Pertama, ada realitas objektif yang ditelaah, dan hal itu ditelaah melalui realitas subjektif tentang pengertian-pengertian kita. Untuk memberikan gambaran tentang hal itu. Kedua, paradigma sebagai pandangan dunia seseorang tersebut, membangun realitas yang dipersepsikan tentang realitas, memfokuskan perhatian pada aspek-aspek tertentu dari realitas objektif dan membimbing interpretasi seseorang pada struktur yang mungkin dan berfungsi pada kedua realitas yang tanpak maupun yang tidak tanpak.
      Riwayat singkat kedua paradigma tersebut dikemukakan oleh Bogdan dan Taylor (1975: 2) yang dapat diikuti dalam uraian berikut. Positivisme berakar pada pandangan teoritisi August Comte dan Emile Durkheim pada abad ke-19 dan awal abad ke-20. Para positivis mencari fakta dan penyebab fenomena social, dan kurang mempertimbangkan keadaan subjektif individu. Durkheim menyarankan kepada para ahli ilmu pengetahuan sosial untuk mempertimbangkan fakta sosial atau fenomena sosial sebagai sesuatu yang memberikan pengaruh dari luar atau memaksanan pengaruh tertentu terhadap perilaku manusia.
Tabel 1
Perbedaan Aksioma Paradigma Ilmiah (Positivisme) dan Naturalistik (alamiah)
(Menurut Lincoln dan Guba, 1985: 37)

Aksioma tentang
Paradigma Ilmiah
Paradigma Alamiah
Hakikat kenyataan.



Hubungan pencari tahu dengan yang tahu


Kemungkinan generalisasi




Kemungkinan hubungan sebab-akibat






Peranan nilai
Kenyataan adalah tunggal, nyata dan fragmentaris.

Pencari tahu dan yang tahu adalah bebas, jadi ada dualisme.

Generalisasi atas dasar bebas-waktu dan bebas-konteks dimungkinkan (pernyataan nomotetik).


Terdapat penyebab sebenarnya yang secara temporer terhadap, atau secara simultan terhadap akibatnya.



Inkuirinya bebas-nilai

Kenyataan adalah jamak, dibentuk, dan merupakan keutuhan.

Pencari tahu dan yang tahu aktif bersama, jadi tidak dapat dipisahkan.

Hanya waktu dan konteks yang mengikat hipotesis kerja (pernyataan idiografis) yang dimungkinkan.

Setiap keutuhan berada dalam keadaan mempengaruhi secara bersama-sama sehingga sukar membedakan nama sebab dan mana akibat.

Inkuirinya terikat nilai.

      
      Paradigma alamiah bersumber mula-mula dari pandangan Max Weber yang diteruskan oleh Irwin Deutcher, dan yang lebih dikenal dengan pandangan fenomenologis. Fenomenologi berusaha memahami perilaku manusia dari segi kerangka berpikir maupun bertindak orang-orang itu yang dibayangkan atau dipikirkan oleh orang-orang itu sendiri.
      Untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap ada baiknya dikemukakan lima aksioma dari Lincoln dan Guba (1985: 36-38) yang mempertentangkan kedua paradigma tersebut. Ikhtiar aksioma tersebut dikemukakan pada tabel di atas.
Tabel 2
Perbedaan Paradigma Penelitian Kualitatif (ilmiah) dan Kualitatif (alamiah)

Modus Kuantitatif (ilmiah)
Modus kualitatif (alamiah)
ASUMSI
-          Fakta sosial memiliki kenyataan objektif.
-          Mengutamakan metode.
-          Variabel dapat diidentifikasikan dan hubungan-hubungannya diukur.
-          Etik (pandangan dari luar)

MAKSUD
-          Generalisasi
-          Prediksi
-          Penjelasan kausal.

PENDEKATAN
-          Mulai dengan hipotesis dan teori
-          Manipulasi dan control
-          Eksperimentasi
-          Deduktif
-          Analisis komponen
-          Mencari consensus, nilai
-          Mereduksi data dengan jalan indicator numerikal.




PERANAN PENELITI
-          Tidak terikat dan tidak harus memperkenalkan diri.
-          Gambaran objektif.
ASUMSI
-          Kenyataan dibangun secara sosial.
-          Mengutamakan bidang penelitian.
-          Variabel kompleks, terkait satu dengan lainnya dan sukar diukur.
-          Emik (pandangan dari dalam).

MAKSUD
-          Kontekstualisasi
-          Interpretasi
-          Memahami perspektif ‘subjek’.
PENDEKATAN
-          Berakhir dengan hipotesis dan teori grounded.
-          Muncul dan dapat digambarkan.
-          Peneliti sebagai instrumen.
-          Mencari pola-pola.
-          Mencari pluralisme, kompleksitas.
-          Hanya sedikit memanfaatkan indicator numerical.
-          Penulisan laporan secara deskriptif.

PERANAN PENELITI
-          Keterlibatan secara pribadi.
-          Pengertian empatik.

      Dengan mengemukakan ulasan tentang paradigma tersebut di atas kiranya pembaca memperoleh gambaran yang jelas tentang perbedaan paradigma penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Sebagai peneliti seseorang hendaknya menyatakan baik secara eksplisit maupun secara implicit pendirian teoretis atau paradigmanya terlebih dahulu. Hal itu perlu dinyatakan demikian karena implikasinya sangat penting dalam keseluruhan langkah penelitian kualitatifnya.
    
DAFTAR PUSTAKA

Emzir. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif & Kualitatif. Jakarta: PT RajaGrafindo Perkasa.
Lexy Moleong. 2014. Metode penelitian kualitatif. Bandung: PT remaja posdakarya.
Lexy Moleong. 2004. Metodologi Penelitian Pendidikan Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nyoman Kutha. 2010. Metodologi Penelitian Kajian Budaya dan Ilmu-ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.



Share on Google Plus

About Adi Kusuma

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment