BLOG GALAHERANG sebuah media informasi tentang review, pendidikan, perjalanan, kesehatan dan budaya

Jarak

www.coderzen.com
Malam ini Hanifah sibuk mengemaskan pakaian yang menurutnya tidak perlu dibawa, karena tasnya sudah penuh.
"Ifah, jangan lupa masukkan berkas-berkas yang disuruh dibawa kesana," pesan Ibu Maryam.
"Semuanya sudah Ifah masukkan, Bu," jawab Ifah sambil melipat baju.
"Berkas itu yang penting, Kalimantan ke Malang bukan dekat. Jangan sampai ada yang ketinggalan".
"Iya, Bu," Ifah mengangguk.
Keesokan harinya Ifah diantar oleh keluarganya ke Pelabuhan. Pagi itu Raihan juga ikut mengantar Ifah. Pagi itu menjadi perpisahan mereka berdua. Kapal laut yang ditumpanginya pun segera berlayar.
Beberapa minggu kemudian disusul keberangkatan Raihan dan Fadlan. Mereka berdua harus meninggalkan Kalimantan menuju Jogja untuk kuliah disana. Sampai di Jogja mereka mencari tempat kost yang dekat dengan kampus.
Hari-harinya mereka jalani dengan penuh semangat kuliah. Semester demi semester sudah mereka lalui. Namun, seketika dalam perjalanannya Raihan galau memikirkan Ifah yang merupakan pacarnya. Ifah yang berada di Malang sedang membutuhkan uang, sedangkan Raihan tidak bisa membantunya. Karena kiriman dari orangnya sudah habis.
"Han, Kamu terlalu sibuk dengan orang lain. Sedangkan dengan dirimu sendiri tidak Kamu perdulikan," Fadlan menasehati sahabatnya itu, agar tidak larut dan galau dengan sesuatu yang tak pasti.
"Ini semua Saya lakukan untuk kebaikannya, Saya ingin menjadi pacarnya yang bertanggung jawab, Fad," jelas Raihan pada Fadlan.
"Ini bukan tanggung jawab, Han. Tapi ini soal amanah, Kamu menyiksa diri sendiri. Uang kiriman dari orangtua mu, Kamu berikan ke dia. sedangkan keperluan dan kewajiban Kamu disini tidak dipenuhi." Jelas Fadlan.
"Setelah lulus kuliah, Saya ingin menikahi Ifah. Maka dari itu kami sekarang statusnya pacaran dahulu."
"Belum tentu apa yang Kamu korbankan selama ini dibalas Ifah, Han. Karena kalian berdua belum halal satu sama lain. Apalagi statusnya hanya pacaran, sewaktu-waktu bisa saja putus, bisa saja suatu saat nanti ia menikah dengan orang lain."
"Selera kita beda. Kamu tak mau pacaran, hanya ingin ta'aruf setelah selesai kuliah. Tapi saya tak bisa seperti kamu, Fad".
"Saya hanya menjalankan apa yang diajarkan agama, Han. Pacaran itu sangat banyak dampak negatifnya, dan juga dilarang dalam agama kita. Jadi, Saya memilih ta'aruf saja nanti setelah selesai kuliah."
            Sudah tiga tahun berada di kota perantaun. Pagi ini Raihan hendak pergi ke Kota Malang untuk menghadiri acara wisudanya pacarnya. Karena Ifah lebih dahulu menyelesaikan kuliahnya dibandingkan Raihan. Ifah yang kuliah di kesehatan D3 sedangkan Raihan S1.
            Sampai di Kota Malang Raihan langsung menemui orangtua Ifah yang dating dari Pontianak sudah beberapa hari yang lalu. Kecerian terpancar dari diri mereka masing-masing.
            “Selamat ya Sayang,” ucap Raihan pada Ifah.
            “Iya. Terima kasih ya sayang ucapannya,” balas Ifah tersenyum.
                                                                        ***
Ifah pulang ke Kalimantan.
            “Fah, kemaren ada Rendi kesini,” ucap Ibunya.
            “Mau apa kesini, Bu,” Tanya Ifah dengan rasa penasaran.
            “Main saja. Katanya ingin ketemu kamu. Soalnya sudah lama tak ketemu”.
            “Oh gitu. Kirain ada sesuatu”.
            “Kamu pasti belum tau tentang dia sekarang, kan!”
            “Emangnya ada apa tentang dia, Bu?”
            “Sekarang dia sudah menjadi pegawai negeri”
            “Baguslah, kalau udah menjadi pegawai negeri”
            “Rencana Ibu mau menjodohkan kamu sama dia,” ucap Ibunya.
            “Ah……., mau menjodohkan Aku sama dia,” Ifah langsung kaget.
            “Iya. Kalau kamu menikah sama dia, hidup mu akan bahagia karena dia sudah memiliki penghasilan tetap”.
            “Ibu kan tau sendiri, Ifah dengan siapa sekarang. Raihan tak lama lagi selesai kuliah S1 nya. Dia pun mau melamar Ifah,” jelas Ifah pada Ibunya.
            “Coba kamu renungkan lagi Ifah, Ibu menyarankan yang terbaik untuk masa depan kamu dan anak mu nanti. Kan kamu bisa putuskan Raihan. Lagi pula dia masih lama selesai kuliahnya dan belum kerja,”
            Hati Ifah menjadi goyah saat Ibunya member nasehat.
            Beberapa minggu kemudian Ifah menelpon Raihan di Jogja. Pada saat itu Raihan sedang bimbingan skripsi. Raihan sedang duduk di ruang tunggu. Ponselnya bordering panggila masuk itu dari Ifah. Lalu ia angkatnya, namun tak suaranya.
             
Share on Google Plus

About Adi Kusuma

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment