BLOG GALAHERANG sebuah media informasi tentang review, pendidikan, perjalanan, kesehatan dan budaya

Berrit

topsy.fr
Akhir-akhir ini warga dikejutkan dengan kejadian-kejadian aneh yang menimpa kampungnya. Disaat malam tiba orang-orang takut untuk keluar rumah. Sebagian lebih memilih berdiam diri di dalam rumahnya. Setelah kematian kakek tua itu suasana kampung menjadi suram dan seram. Pada siang harinya warga berdatangan kerumah Pak RT, tujuan mereka kesana untuk bermusyawarah mengenai keamanan kampungnya tersebut.
Beberapa hari kemudian ada 6 mahasiswa dari Kota Pontianak mendatangi kampung itu. Kedatangan mereka kesana melihat situasi dan kondisi kampung untuk diajukan menjadi tempat kegiatan beberapa minggu kemudian. Tahun ini mereka lebih tertarik melakukan kegiatan di daerah pedalaman Sungai Kunyit Hulu. Karena tahun lalu mereka sudah melakukannya di daerah pesisir Pantai Kijing. Dari panitia team survei sudah mendatangi rumah Kepala Desa dan Ketua RT nya membicarakan perizinan.
Saat sampai dilokasi mereka hendak mengambil foto-foto sebagai dokumentasi untuk dibawa ke Kota Pontianak. Foto tersebut untuk bahan pertimbangan kepada teman-teman panitia pelaksana kegiatan tahun ini.
“Nak, apa yang kalian lakukan disini?” tanya Kakek tua bercaping hitam.
“Kami lagi meninjau tempat ini, Kek.” jawab dari mahasiswi itu.
“Hati-hati disiang hari, Nak. Tempat ini sudah ada yang menempatinya” pesan Kakek tua.
“Iya Kek. Insya Allah kami hati-hati.”
Kakek tua tersebut meninggalkan mereka yang berjumlah 6 orang yang terdiri dari 3 mahasiswa dan 3 mahasiswi. Memikul cangkul yang ia bawa. Tak lama kemudian sekitar 10 langkah Kakek tua menghilang. Ada 1 mahasiswi yang melihat langsung kalau Kakek itu menghilang, sedangkan yang lain mengambil gambar pemandangan bukit yang hijau dan pasir yang putih.
“Kawan-kawan, Kakek tadi menghilang tiba-tiba.” jelasnya.
“Ah, kamu suka mengada-ngada. Mungkin saja Kakek itu berbelok arah,” jawab sebagian temannya.
“Benar. Saya tidak bercanda. Kakek itu menghilang tanpa jejak,” jelasnya lagi.
“Mungkin kamu lelah, atau karena efek kacamata nya disiang bolong ini,” mereka berlima tak ada yang percaya.
            Warga bergantian ronda malam menjaga kampungnya. Menghindari terjadi lagi datangnya pemangsa hewan-hewan ternak mereka. Hewan peliharaan warga sudah habis dimakan oleh manusia berkepala binatang yang bisa menghilang dengan sekejap. Setelah kepergian Kakek tua itu warga sudah banyak yang memperkirakan, arwahnya akan gentayangan selama 40 hari. Karena masa hidupnya ia sebagai seorang dukun yang jauh dari agama, menyimpan dan mempercayai benda-benda gaib. Sehingga warga menyebutnya arwahnya gentayangan menjadi Hantu Menaon tidak diterima bumi.
            Tiba waktunya mahasiswa dari Kota Pontianak berangkat menuju Sungai Kunyit menggunakan bis. Agenda yang akan mereka lakukan adalah OSPEK mahasiswa baru. Dalam perjalanan bis yang mereka tumpangi rusak, lalu sampai di daerah pergunungan di Bukit Batu bisnya kembali dapat musibah hampir terbalik menuju jurang.
             Beberapa hari kemudian mereka mendapat ujian lagi. Hujan lebat petir menyambar lampu mati. Mereka dibayang-bayangi oleh penampakan disekitar rumah yang didiami. Sebagian dari mereka kerasukan dan meronta-ronta. Sehingga kegiatan yang sudah diagendakan terkendala.
Share on Google Plus

About Adi Kusuma

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment