BLOG GALAHERANG sebuah media informasi tentang review, pendidikan, perjalanan, kesehatan dan budaya

Kisah Asal Usul Nama Gunung Ipo di Sungai Kunyit


          

    
Tak banyak orang yang tahu tentang asal-usul nama gunung ini. Sebuah cerita legenda turun -temurun tentang gunung nan hijau dan ditumbuhi oleh pohon besar menjulang tinggi yang sangat langka. Sebatang pohon rindang yang hidup subur di gunung terletak di Desa Sungai Kunyit, Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Indonesia.

Sejarah Nama Gunung Ipo Sungai Kunyit 

        Pada mulanya gunung itu tidak memiliki nama. Hanya sebuah gunung yang hijau dan ditumbuhi pohon-pohon besar. Pada saat siang hari ada sebagian warga pergi berburu ketempat tersebut. Ketika sampai ada sesuatu yang menjanggal, ada beberapa hewan yang tergeletak dihadapannya. Didekati hewan tersebut dilihat satu persatu, lalu dicarilah penyebabnya kenapa hewan itu mati. Ditengah perjalanannya ada seekor burung jatuh di hadapan mereka. Burung itu masih dalam kondisi hidup, tapi kondisinya sedang sekarat.

        Setelah beberapa hari masa pencarian, maka diketahuilah penyebab hewan-hewan mati ketika berada disekitar gunung itu. Dari beberapa pohon besar yang hidup di gunung, ternyata ada satu jenis pohon yang beracun. Apabila pohon besar itu dilukai maka mengalir getah berwarna putih dan aromanya sedikit berbeda dengan getah pohon lainnya. Ketika mencium aromanya seakan memabukkan dan getahnya mengandung racun. Sejak itulah masyarakat setempat lebih berhati-hati ketika berburu di gunung tersebut.

          Sejak diketahui disekitar gunung sangat berbahaya untuk kehidupan, maka sebagian warga takut mencari makanan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pohon besar itu juga diketahui namanya, pohon yang memiliki nama ipo. Sehingga orang-orang menamakan gunung yang berbahaya dengan sebutan Gunung Ipo. Disesuaikan dengan nama pohon pertama kali ditemukan, getahnya memiliki racun yang bisa merenggut nyawa makhluk hidup.

Cara Mengambil Getah Ipo

Menurut cerita rakyat Sungai Kunyit Hulu. Pada masa dahulu pohon ipo yang dikenal getahnya yang beracun. Untuk memperoleh getahnya tidaklah mudah memerlukan cara tersendiri. Tak semua orang bisa dan berani mendeati pohon itu, dengan alasan tak mau mengambil risiko yang membahayakan jiwanya. Karena getah dianggap memiliki kekuatan untuk keperluan berburu maka diambil dengan keahliannya.
Tahap memgambil getahnya. Cara yang dilakukan oleh orang-orang zaman dahulu, pertama dengan cara mengikat anak panah dengan tali. Kedua, anak panah yang sudah diikat kemudian diluncurkan mengarah ke pohon. Ketiga, jarak antar pohon dengan pemanah berjauhan. Keempat, setelah getah ipo mengalir ke anak panah lalu ditariklah anak pana tersebut.

        Kampung Sungai Kunyit pada masa silam masih hutan belantara. Hewan buas masih banyak berkeliaran di daerah pegunungan dan hutan. Masyarakat pedalaman Sungai Kunyit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan berburu ke hutan dan ke sungai. Alat yang digunakan untuk berburu, berupa panah, sumpit dan tombak. Getah yang diperoleh langsung dioleskan kebagian ujung peralatan buruannya..


         Pada saat itu, burung-burung enggan terbang di atasnya. Disebabkan, setiap burung yang terbang melintasi pohon itu langsung terjatuh lalu mati ditempat. Tahun ke tahun telah berlalu pohon ipo pun mulai tua. Pohonnya mulai mengering dan daun-daunnnya berjatukan dari rantingnya. Akhirnya pohon tersebut mati.

       Pohon beracun itu sudah tiada, maka warga setempat sudah memberanikan diri mendekati dan bercocok tanam disekitar gunung. Kemudian mereka membuat sebuah pemukiman untuk tempat ditinggalnya. Sehingga sampai saat ini di bawah gunung itu ada lahan persawahan dan sebuah perkampungan. Kalau pohon itu masih hidup sampai saat ini, bisa jadi orang-orang tak berani bekerja disekiranya. 
Share on Google Plus

About Adi Kusuma

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment