BLOG GALAHERANG sebuah media informasi tentang review, pendidikan, perjalanan, kesehatan dan budaya

Flek Hitam Kehidupan


satujam.com
          Heningnya malam menemani gelapnya malam ini. Ujung sajadah menjadi saksi bahwa penyesalan selalu datang dikemudian hari. Namun kejadian demi kejadian yang terjadi dalam hidup ini, mesti dilalui dengan penuh kesadaran dan kesabaran.
Didalam kamar yang sunyi Sofi menangis tersedu-sedu, mukenahnya basah dicucuri oleh air matanya. Ia menangis mengingat atas dosa-dosa yang sudah diperbuatnya, memohon ampun kepada Allah dengan penuh kerendahan hati. Ia terlelap sampai adzan subuh, bangun langsung sholat.
Pagi harinya Sofi hendak pergi ke pasar Plamboyan. Ia keluar dari rumahnya menggunakan baju warna hijau muda dan kerudung putih. Berjalan kaki melewati perumahan.
“Eh, perempuan gatal. Kamu mau kemana terburu-buru amat?, Tanya seorang Ibu komplek dimana ia bertempat tinggal.
“Astagfirullah. Maaf kalau saya memiliki salah dengan Ibu Anggi. Tapi, saya punya nama, Bu,” jawab Sofi sambil mengelus dadanya.
“Alah, jangan sok suci deh kamu. Ibu ini tau tentang semua masa lalu kamu,” Ibu Anggi masih mengeluarkan kalimat mencela.
Ibu tiga anak itu selalu tidak senang ketika melihat Sofi. Setiap ketemu dengan kalimat menyindir dan celaan yang dikeluarkan padanya. Namun, Sofi tetap selalu menjaga hatinya dan membalas perkataannya dengan kalimat yang lembut dan santun.
“Maaf ya Ibu. Saya bukannya sok suci atau semacamnya. Namun, saya hanya berusaha menjadi manusia yang lebih baik lagi. Pagi ini saya mau belanja sayur ke pasar, mungkin ibu mau barengan sama saya,” Sofi mengajaknya.
“Udahlah. Kamu jangan sok baik sama saya. Nanti saya diantar oleh anak saya”.
“Kalau begitu. Saya berangkat duluan ya, Ibu Anggi,” Sofi pamit.
“Iya. Janda muda. Semoga di jalan kamu menemukan suami lagi,” sambil memalingkan muka.
Sambil berjalan melangkahkan kakinya Sofi beristigfar agar bisa mengendalikan dirinya. Tidak emosi ketika ujian datang berupa pujian, cacian, celaan padanya.
Saat berada diperantaun jauh dari orangtua dan keluarga hanya seorang teman yang selalu ada ketika membutuhkan bantuan. Sejak dari SMA sampai selesai kuliah sudah berpisah dengan kedua orangtua di kampung halaman. Bertahun-tahun berada di kota Pontianak, meninggalkan kampung untuk mendapatkan pendidikan, ingin mengubah nasib. Namun, banyak rintangan yang harus dilaluinya.
Pada saat kuliah kebutuhan hidup semakin meningkat, persaingan gaya hidup semakin meningkat antar sesama teman. Kiriman uang dari orangtua dari kampung tidak lancar. Sehingga cara-cara yang tidak seharusnya dilakukan, tapi dilakukannya.
                                                                                     ***
            “Sampai kapan kamu akan diam begini, Fi?,” tanya Ratih yang merupakan sahabat kontarkannya.
            “Aku akan diam selama ingin menjadi orang baik, Rat,” jawab dengan santai.
            “Kalau kamu diam terus-terusan tampa membalas perkatan Ibu itu. maka kamu akan dihina dan disindir”.
            “Iya sudah. Kita jangan memikirkan dan terlalu mempermasalahkan hal ini,”
                                                                                    ***
            Ratih tak bisa tinggal diam dengan perlakuan Ibu Anggi pada sahabatnya itu. ia harus berusaha mencari tahu penyebabnya kenapa Ibu Anggi sangat membenci Shofi. Padahal selama ini Shofi tak pernah mengganggu kehidupannya. Tapi ibu itu selalu mengeluarkan kata-kata kasar.
            Pagi itu Ratih memiliki sebuah ide untuk mengungkap rasa penasarannya. Kala itu ia pergi ke rumah Ibu Anggi tanpa sepengetahuan Shofi. Ia berjalan kaki menuju rumah Ibu Anggi sampai di depan rumahnya mengetuk pintu.
            “Assalamualaikum, Buk Anggi,” ucap Ratih.
            “Wa’alaikusalam,” Ibu Anggi keluar dari dapurnya.
            “Cari siapa Ratih?” tanyanya.
            “Aku ingin bertemu sama Ibu saja”.
            “Ada keperluan apa?”
            “Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan pada Ibu”
            Ibu Anggi masih ragu untuk menyuruh tamunya masuk kedalam. Ia masih berdiri di ditengah pintu, sedang Ratih berdiri di teras rumahnya.
            “Kalau boleh tahu tentang apa ya? Soalnya Ibu tak pernah ada urusan dengan kamu,” jelasnya.
            “Ini terkait tentang Ibu dan Shofi,”
            Ibu Anggi kaget saat Ratih menyebut nama Shofi. Karena ia sangat benci dengan Shofi, tapi pagi ini Ratih ingin membicarakan tentangnya.
            “Mari masuk kedalam. Kita berbicara didalam saja,” Ratih dipersilahkan masuk kedalam rumahnya.
            Ratih duduk di ruang tamunya.
            “Sebelumnya aku minta maaf sama Ibu. Karena sudah mengganggu waktu paginya bertamu,”
            “Iya. Tak apa-apa. Kalau ada sesuatu yang penting ingin dibicarakan”.
            “Begini, Bu. Aku itu sangat kasihan sama Shofi. Karena selama Ibu sangat membencinya. Padahal ia tak ada salah dengan keluarga Ibu”.
            “Kamu ini mau jadi pahlawannya kah?”
            “Bukan begitu, Bu”.
            “Lalu apa mau mu?”
            “Aku kesini berniat baik. Ingin tau sebenarnya kenapa Ibu sangat membencinya?”
            “Ibu punya alasan tersendiri membencinya. Karena Ibu merasa takut Ayah anak-anak dirumah tergoda padanya,” jelas Ibu Anggi pada Ratih.
            “Astagfirullah. Jadi, selama ini Ibu cemburu padanya,” Ratih sangat kaget.
            “Iya. Begitulah kenyataannya. Kamu sudah tau kan sekarang!”
            “Aku tak menyangka pada Ibu. Sampai segitunya membenci dan cemburu sama orang lain. Padahal orang yang Ibu benci tak melakukan hal apapun”.
            Pada akhirnya terungkap sudah. Kebencian Ibu Anggi pada Shofi lantaran ia tahu masa lalunya dan merasa takut suaminya tergoda. Padahal ia sekarang sudah berubah, memperbaiki diri untuk lebih baik lagi kedepannya.
                                                                                    ***
            Hari ini Ratih ada undangan resepsi sahabatnya di Kota Baru. Rencana sore harinya akan pergi bersama teman-teman kampusnya. Ratih juga mengajak Shofi untuk pergi bersama.
            “Shofi. Jadi ikut kan?” Tanya Ratih pada Shofi.
            “Tak tau lah, Rat,” jawabnya.
            “Ikutlah. Kamu jadi teman aku disana”.
            “Katanya kamu mau pergi sama teman-teman kampusnya”.
            “Iya. Tapi kan kami ketemuannya disana. Jadi, dari sini kamu temanin aku”.
            Shofi menarik napasnya. Karena ia baru pulang dari tempat kerjanya.  


Share on Google Plus

About Adi Kusuma

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment