BLOG GALAHERANG sebuah media informasi tentang review, pendidikan, perjalanan, kesehatan dan budaya

Aku Ini Sahabatmu


ayobuka.com               
Hembusan lembut angin dari Sungai Kapuas kala sore itu. Rani dan Anggun menikmati suasana Taman Alun-Alun Kapuas salah satu objek wisata yang sangat menarik di Kota Pontianak. Sore itu Anggun sengaja membuat janji pada Rani. Tempat yang mereka pilih adalah Alun-Alun Kapuas.
Rani menghampiri Anggun yang sedang berdiri menghadap Sungai Kapuas.
“Maaf. Aku telat datang, Gun”.
“Iya. Tak apa-apa, Ran,” Anggun tersenyum.
“Soalnya tadi ada kerjaan kantor yang mesti aku selesaikn terlebih dahulu”.
“Iya. Aku juga baru datang, Ran”.
“Ngomong-ngomong ada apa sebenarnya? Sepertinya serius benar kamu mengajak ketemuan di sini, Gun?” tanya Rani dengan rasa penasarannya.
“Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan, Ran,” jawab Anggun dengan nada sedikit canggung.
Anggun mengajak Rani mencari tempat duduk agar mereka bisa leluasa mengobrolnya. Mereka melangkahkan kakinya, setelah menemukan tempat duduk lalu mereka duduk dan melanjutkan obrolannya.
“Kita lanjutkan lagi, Gun. Kamu bilang ada sesuatu yang ingin disampaikan. Kira-kira apa, Ya?” tanya Rani lagi.
“Aku juga bingung harus memulai dari kalimat yang mana. Sungguh ini sangat berat bagi aku, Ran”. Anggun mengungkapkan apa yang ia rasakan.
“Sebenarnya kalau kamu bingung bisa menyampaikan melalui SMS atau menelpon ku, Gun,” Rani sambil tersenyum agar sahabatnya itu tetap tenang pada saat menyampaikan sesuatu yang ingin ia ungkapkan.
“Tapi, ini penting, Ran. Soalnya ini terkait tentang persahabatn kita”.
“Setahuku persahabatan kita baik-baik saja selama ini. Kamu sampaikan saja permasalahannya, Gun”.
“Tak lama lagi aku akan dilamar oleh seseorang, Ran”.
“Alhamdulillah ternyata sahabatku yang baik hati ini akan menikah juga. Aku sangat senang mendengarnya, Gun,” Rani merasa senang ketika mendengar kabar gembira itu dari sahabatnya.
“Sebelumnya aku ingin minta maaf, Ran. Kamu jangan kaget dengan sosok lelaki yang akan melamarku nanti, Ran”.
“Kenapa aku mesti kaget, Gun. Siapa lelaki yang akan melamarmu itu?”.
“Lelaki itu sudah tak asing lagi di matamu, Ran”.
“Cepat jawab saja siapa lelaki itu? Jangan membuatku penasaran, Gun,” Rani mendesak Anggun agar memberi tahu tentang sosok lelaki tersebut.
“Lelaki itu adalah Aldi, Ran”.
“Apa…….? Lelaki itu Aldi…..?” tangan Rani langsung gemetar lalu menutup mulutnya, pandangan menjadi gelap.
Suasana menjadi tidak kondusif, langit Kota Pontianak menjadi mendung. Rani tidak bisa membendung air matanya. Tak menyangka sore itu Anggun akan memberi informasi yang sangat memukul hatinya. Karena sosok lelaki yang bernama Aldi sudah lama ia dikenal. Bahkan kedua orangtua Rani juga mengenalinya.
“Jadi, selama ini Aldi menjauh dan membatalkan untuk melamarku karena ada wanita lain. Kamu jahat pada sahabatmu sendiri, Gun,” Rani masih tersedu-sedu.
“Maafkan aku, Ran. Makanya sore ini aku ingin sekali menjelaskan semuanya tentang aku dan Aldi”.
“Cukup, jangan dilanjutkan, Gun. Semuanya sudah jelas sekarang,” Rani masih belum pulih. Hatinya masih terasa perih dan terpukul.
“Ran, dengarkan aku dulu,” Anggun berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
“Bertahun-tahun kita bersahabat, Gun. Tapi, kenyataannya begini sekarang,” Rani masih menangis. Ia belum bisa menerima dengan kenyataan.
“Maka dari itu berikan kesempatan padaku untuk menjelaskannya, Ran. Agar tak ada lagi rahasia diantara kita bertiga,” Anggun tetap berusaha menyampaikan semua yang sudah terjadi.
Akhirnya Rani memberi kesempatan dan mau mendengarkan penjelasan dari Anggun sampai selesai. Setelah itu mereka berbedua berpisah, pulang dengan membawa kisah yang sangat mendalam. Persabatan yang pernah dibangun bersama-sama oleh mereka, namun kandas oleh perasaan.
***
Sore itu Ibu Maryam sedang menyiram bunga di depan rumahnya. Rani pulang dari tempat kerjanya langsung memarkir motornya di garasi. Lalu Ibunya memanggil anaknya tersebut.
“Ran, kesini dulu,” pinta Ibu Maryam
“Iya, Rani kesitu, Bu,” Rani menyimpan helm di atas motornya.
“Cepat sini, Ibu ada kabar gembira untuk mu”.
“Ada apa, Bu? Semangat benar memanggilnya,” tanya Rani. Didalam hatinya sambil bertanya-tanya kenapa Ibunya kelihatan sangat ceria.
“Ibu ingin memberi tahu sesuatu pada kamu.
“Sesuatu apa ya, Bu?”
“Tadi siang sebelum sholat dzuhur ada dua tamu yang datang kemari,” jelas Ibunya.
“Aaaaa…..tamu. Memangnya tamu siapa, Bu? Penasaran deh jadinya,” Rani melihat ponselnya.
“Tamunya Ayah atau tamunya Ibu yang datang?”
“Iya tamunya kamu lah , Ran. Masak tamunya Ayah atau Ibu seorang lelaki yang muda, tampan dan satunya cantik”.
“Kalau yang datang itu tamunya Rani, kenapa mereka tak ada menelpon atau sms?. Soalnya dari tadi pagi tak ada seseorang yang menghubungiku, Bu,” jelas Rani pada Ibunya.
“Pesan mereka katanya nanti malam mau datang lagi kemari, Ran. Jadi, tunggu saja nanti malam”.
“Tamu misterius,” ucap Rani.
“Nanti malam kamu juga bakalan tahu sendiri. Sabar saja, Ran,” Jelas Ibu Maryam.
Lalu Rani membantu Ibunya menyiram bunga mawar di dalam pot di depan rumahnya. Setelah selesai Rani masuk ke dalam kamarnya.
                                                            ***
Bel rumah pun berbunyi. Rani keluar dari kamarnya menuju pintu ruang tamu. Ia melihat dari balik tirai ternyata ada dua orang tamu sedang berdiri di teras rumahnya.  Rani membuka pintu kemudian menyuruh mereka masuk dan duduk di ruang tamu. Lalu Rani menemui kedua orangtuanya di ruang keluarga. Memberi tahu bahwa tamu yang hendak datang malam ini mereka sudah duduk di ruang tamu.
Pak Herman dan Ibu Maryam keluar menemui mereka berdua. Farhan dan Masyitah bersalaman dengan kedua orangtua Rani. Mereka berlima mengobrol di ruang tamu tersebut. Farhan dan Masyitah memperkenalkan diri dan menyampai maksud dan tujuan mereka datang.
Ibu Maryam menyuguhkan teh hangat dan pisang goreng.
“Silahkan dimakan dan diminum,” Ibu Maryam menyuruh Farhan dan Masyitah.
“Iya, Bu,” mereka berdua mengangguk bersamaan.
“Maaf. Hanya ini hidangannya Nak Farhan dan Nak Syita”.
“Terima kasih banyak. Ini sudah lebih cukup, Bu,” ucap Syita.
“Kami berdua sudah bersyukur, senang bisa bersilaturrahmi. Dijamu dengan teh hangat dan pisang goreng. Kalau yang menggoreng pisang ini Rani pasti rasannya enak, Bu,” puji Farhan. 
“Kamu bisa saja, Han,” ucap Rani.
“Iya. Nak Farhan benar. Pisang ini Rani yang menggorengnya tadi,” sambung Ibu Maryam.
Mereka mencicipi pisang goreng yang disuguhkan di atas meja. Kemudian Ayah dan Ibu Rani pamit masuk kedalam. Membiarkan Rani mengobrol dengan sahabat lamanya waktu kuliah.
“Ran, gimana kabarnya kamu sekarang?” tanya Farhan.
“Alhamdulillah. Seperti yang kamu lihat malam inilah. Kalau kamu sendiri gimana kabarnya, Han?” Rani bertanya balik pada Farhan.
“Alhamdulillah. Seperti yang kamu lihat juga malam inilah, Ran”.
Setelah kedua orangtuanya masuk ke ruang keluarga. Mereka mengobrolnya lebih santai selayaknya anak muda seumuran mereka. Pada saat mengobrol dengan kedua orangtua Rani mereka berdua canggung. Farhan dan Masyitah menjawab sesuai dengan apa yang ditanyakan oleh Bapak Herman dan Ibu Maryam.
“Han. Kenapa waktu menikah tak mengundangku?” tanya Rani sambil protes, karena Rani tak mendapatkan undangannya.
“Oh iya. Aku belum memberi tahu pada Ayah dan Ibumu, Ran,” Farhan memegang kepalanya.
“Memberi tahu tentang apa, Han?” tanya Rani.
“Kalau Syita ini bukan istriku, Ran”.
“Kalau bukan istrinya berarti pacarnya atau calon istrinya?”.
“Tebakan Kamu ketiga-tiganya salah, Ran”. ucap Farhan.
“Kalau bukan, berarti Syita ini siapanya kamu, Han?” tanya Rani dengan rasa penasaran.
“Lebih jelasnya lagi kamu boleh nanya langsung ke Syita, Ran,” Farhan menyuruh Rani mengobrol dengan Masyitah.
“Maaf sebelumnya Kak Rani, sebenarnya aku ini adik kandungnya Bang Farhan,” jelas Syita pada Rani.
“Oh, jadi kamu adiknya Farhan. Maaflah kalau begitu. Karena dari pertama masuk ke rumah ini aku mengira kalian berdua suami istri. Bisa jadi Ayah dan Ibu mengira kalian pasangan suami istri tadi,” Rani menggelengkan kepalanya.
“Bisa jadi begitu, Ran”.
“Waktu kuliah dulu Farhan tak pernah cerita kalau memiliki adik perempuan,” Rani tak enak hati pada Syita.
“Iya. Tak apa-apa Kak Rani. Namanya juga tak tahu wajarlah mengira Bang Farhan sudah beristri”.
“Bukannya waktu masih kuliah dulu Farhan sudah punya pacar”.
Lalu Syita menceritakan kisah yang terjadi pada Abangnya itu dengan wanita yang dimaksud Rani. Dahulu ketika pacarnya memutuskan Farhan sempat ia stres dan sakit. Setiap hari ia memikirkan mantan pacarnya. Namun sahabat-sahabat kerjanya terus memotivasinya agar terus bangkit, semangat menjalani proses kehidupan.
Sehingga pada akhirnya ia memilih untuk terus belajar ilmu agama Islam, menjalani perintah agama sebagaimana yang diperintahkan. Ia memilih hijrah memperbaiki dirinya, memutuskan tidak lagi pacaran, fokus bekerja untuk masa depannya dan memilih calon hidupnya nanti dengan cara yang diajari Islam yaitu dengan jalan ta’aruf.
“Begitulah ceritanya, Kak,” Syita mengangguk.
“Alhamdulillah kalau begitu, ternyata Farhan sekarang sudah berubah, hijrah untuk lebih baik lagi,” Rani memberi dukungan pada Farhan.
“Iya, Ran. Ini semua berkat doa-doa orang yang sayang dan peduli dengan ku. Mengambil hikmah itu sangat penting disetiap kejadian yang terjadi pada diri kita sendiri. Ternyata yang baik menurut kita, kadang belum tentu baik bagi Allah. Karena kita tidak menjalankan perintah agama dengan sepenuhnya,” Farhan menjelaskan hikmah yang ia dapat ketika putus dengan pacarnya.
“Iya. Han. Apa yang kamu benar itu benar. Sekarang kamu sangat religius”.
“Saya lihat kamu juga religius sekarang, Ran. Bede dengan waktu kuliah dulu. Waktu kuliah dulu tidak menggunakan hijab, tapi sekarang sudah menggunakannya. Ini merupakan sesuatu hal yang baik,” Farhan juga salut dengan perubahan sahabatnya itu.
“Iya. Begitulah, Han. Saya juga pengen hijrah yang lebih baik lagi. Aku juga pernah diuji melalui perantara sahabat karibku. Lagi pula menggunakan hijab itukan untuk menutup aurat.  Sudah kewajiban aku selaku seoarang perempuan muslimah. Dahulu aku takut untuk menggunakan hijab, takut kurang cantik, takut tak diperhatikan oleh cowok-cowok. Ternyata apa yang aku pikirkan waktu itu ternyata salah, Han”.
“Semoga dibalik kejadian kita semua bisa mengambil hikmahnya,” ucap Syita.
Setelah selesai mengobrol mereka berdua pamit. Farhan dan Syita hendak pulang ke rumah pamannya di Kota Baru. Malam ini mereka menginap disana. Keesokan harinya baru mereka pulang ke Kota Singkawang.
                                                            ***
Beberapa bulan kemudian Farhan hendak ke Kota Pontianak lagi. Tujuan kali ini berbeda dari sebelumnya. Ia sudah memiliki niat yang bulat dan sudah melakukan sholat istikharah siapa perempuan yang akan didatanginya. Kali ini ia hendak melakukan proses ta’aruf dengan Rani yang merupakan sahabatnya waktu kuliah.
Farhan berangkat dari Singkawan menyewa mobil pribadi. Ia datang bersama kedua orangtua dan adiknya ke rumah Rani. Niat baik Farhan ditanggapi baik oleh Rani dan kedua orang tuanya. Karena keduanya sudah ada kecocokan untuk hidup bersama. Proses ta’aruf pun berjalan dengan lancar. Kedua pihak keluarga sudah bermusyawarah membuat kesepakatan untuk pernikahan putra dan putrinya mereka.
Akhirnya tiba hari resepsi yang sudah ditentukan di Kota Pontianak. Farhan dan Rani sudah sah menjadi suami-istri. Siang itu mereka menjadi raja dan ratu sehari. Farhan dan Rani terus memberi senyuman pada tamu undangan yang bersalaman.
Sekitar jam empat sore Anggun dan Aldi datang memenuhi undangan Rani. Karena sebelum ketemu dengan Farhan Rani sudah memaafkan mereka berdua. Ikhlas dengan semua yang sudah terjadi diantara mereka bertiga.
“Selamat ya sahabatku. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawahdah, warahmah ya, Rani,” Anggun bersalaman dan memeluk Rani dengan erat.
“Aamiin. Terima kasih banyak doanya ya sahabatku, Anggun. Kalian berdua sudah mau datang diacara pernikahan kami,” Anggun datang bersama Aldi, mereka berdua sudah menikah terlebih dahulu.
“Iya sama-sama, Ran. Rugilah kalau aku tak datang dipernikahan kamu. Waktu aku menikah kamu kan datang bersama Tante Maryam,” ucap Anggun.
Sebelum pulang mereka berempat berfoto bersama. Mengabadikan momen yang sangat terindah dalam kehidupannya.



Share on Google Plus

About Adi Kusuma

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment